reunifikasi-tembok-berlin

Sejarah Reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur

By in Studi di Jerman on 26 Februari 2016

Sebelum  Jerman menjadi negara kesatuan seperti saat ini, salah satu negara besar di Benua Eropa tersebut pernah terpecah menjadi dua bagian, Jerman Barat dan Jerman Timur. Terpecahnya Jerman bahkan sudah terjadi sejak Perang Dunia I.

Ketika itu, berakhirnya Perang Dunia I ditandai dengan pelaksanaan Perjanjian Versailes. Berdasarkan perjanjian tersebut, Jerman harus menerima tanggung jawab sebagai penyebab peperangan, salah satunya menyerahkan sebagian wilayahnya kepada negara tetangga atau memerdekakan negara jajahan, seperti Ceko dan Polandia.

Kemudian, pada tahun 1933, Adolf Hitler diangkat menjadi kanselir Jerman usai menggulingkan Republik Wiemar yang dianggap sudah mempermalukan bangsa usai kalah pada Perang Dunia I. Pada masa kepemimpinan Hitler, kekuatan militer Jerman menguat dan ia pun membentuk kelompok yang disebut Nazi.

Sejarah mencacat, Jerman pimpinan Hitler sekali lagi harus menelan kekalahan saat berlangsungnya Perang Dunia II. Berdasarkan Konferensi Potsdam pada tanggal 2 Agustus 1945, Jerman dibagi menjadi dua bagian, wilayah barat (Republik Federal Jerman) dikuasai Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, sementara wilayah timur (Republik Demokratik Jerman) dikuasai Uni Sovyet.

Selain itu, Kota Berlin yang terletak di Jerman Timur juga dibagi menjadi dua, bagian barat dikuasai Amerika Serikat, sedangkan Berlin Timur di bawah Uni Sovyet. Hal ini dimaksudkan untuk menghancurkan atau meminimalkan kekuatan Jerman sebagai negara besar.

Karena dikuasai oleh dua kutub yang berbeda, pemerintahan di kedua negara tersebut juga bertolak belakang. Jika Jerman Barat menerapkan sistem kapitalis dengan sebuah ekonomi pasar sosial, maka Jerman Timur menganut suatu pemerintahan otoriter dengan gaya ekonomi khas Uni Sovyet.

Meski dalam perjalanannya, Jerman Timur menjadi negara paling maju di Blok Timur, namun banyak warganya yang masih melihat ke Barat untuk kebebasan politik dan kemakmuran ekonomi. Karena itu, Republik Demokratik Jerman membangun Tembok Berlin pada tahun 1961 untuk mencegah penduduknya lari ke pasar pedagangan Jerman Barat. Sayangnya, langkah ini malah membuat perekonomian Jerman Timur mengalami krisis.

Pada tahun 1989, negara tetangga, Hungaria, yang saat itu juga berhaluan komunis, membuka perbatasan dengan Austria, sekaligus membuka jalan lebar bagi warga Jerman Timur melarikan diri ke Jerman Barat. Kemudian, pada November 1989, pemimpin Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev, mengubah haluan Jerman Timur untuk berdamai dan bersatu dengan Jerman Barat.

Ditambah dengan hasrat penduduknya menuju Barat yang semakin besar, Pemerintah Jerman Timur pun mulai melonggarkan aturan bepergian ke Barat melewati perbatasan. Hingga pada akhirnya, sedikit demi sedikit warga Jerman Timur mulai menghancurkan Tembok Berlin.

Alih-alih mencegah, Pemerintah Jerman Timur memutuskan membuka perbatasan tersebut dengan ikut menghancurkan tembok menggunakan buldozer. Jatuhnya Tembok Berlin kemudian menjadi awal dari reunifikasi (penyatuan kembali) Jerman, yang ditandatangani oleh perwakilan dua pemerintahan pada tanggal 3 Oktober 1990.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *